Perjalanan
Bagaimana semuanya dimulai
Abrasi mengubah tambak Tanjung Widoro menjadi hamparan lumpur. Penanaman sebelumnya tersapu ombak, sehingga pada 2018 restorasi dimulai lagi dengan jenis perintis bersama nelayan setempat. Kini hutan hasil restorasi sudah lebih dari tujuh hektare dan menjadi tempat sekolah, peneliti, dan pengunjung belajar tentang pesisir.
Fase 1 · Sebelum 2018
Pantai yang terkikis
Pesisir Tanjung Widoro dulu dipenuhi tambak. Abrasi menggerus tanggul-tanggulnya hingga yang tersisa hanya hamparan lumpur dan batu, dan tambak tidak bisa lagi dipakai warga.
-
1999–2013
Sekitar 190 hektare lahan pesisir desa hilang karena abrasi.
-
2009–2015
Beberapa kali penanaman mangrove dilakukan, tetapi bibitnya tersapu ombak karena jenis yang ditanam bukan jenis perintis.
Fase 2 · 2018–2020
Memulai restorasi
Belajar dari kegagalan sebelumnya, restorasi dirancang ulang: menanam jenis perintis di tempat yang tepat, bertahap dari area yang terlindung ke area terbuka, dengan warga sebagai pelaku utama.
-
2018
Kajian kelayakan dan desain teknis rehabilitasi pesisir disusun. Penanaman pertama seluas 3,23 hektare dimulai bersama Pokmaswas Tanjung Widoro, didukung PT Petrokimia Gresik.
-
Mei 2018
Enam belas anggota Pokmaswas melakukan studi banding ke ekowisata mangrove di Probolinggo untuk melihat langsung manfaat mangrove yang dikelola dengan baik.
-
2019
Penanaman lanjutan seluas 3,28 hektare. Pokmaswas membangun jembatan pemantauan mangrove pertama, dari bambu, di sekitar lokasi untuk memantau tanaman. Luas tutupan mangrove tercatat 5,01 hektare.
-
2018–2020
Sekitar 3.000 pengunjung dari 50 lembaga datang belajar, termasuk tamu dari Belgia dan Singapura.
-
2020
Pengelolaan kawasan dijalankan mandiri oleh warga. Pemantauan burung tahunan dimulai.
Fase 3 · 2021–kini
Tempat belajar pesisir
Hutan yang tumbuh menjadi ruang belajar: sekolah, kampus, perusahaan, dan komunitas datang untuk menanam, berkemah, dan mengenal satwa pesisir.
-
2021
Pengembangan eduwisata: perbaikan jembatan pemantauan mangrove dan papan informasi. Budidaya tiram dimulai dengan 324 ban bekas pada rangka bambu di depan jembatan pemantauan mangrove.
-
2024–2026
Penanaman kembali 1 hektare per tahun di lahan tambak terabrasi sisi utara.
-
2025
Pelatihan pemandu ekowisata dan kegiatan literasi laut untuk anak-anak dan guru.
-
2026
Tutupan mangrove mencapai 7,34 hektare dan 68 jenis burung tercatat dalam survei.
Dari tambak ke hutan
Pesisir yang sama, dilihat dari atas
Pada 2009 kawasan ini masih berupa petak-petak tambak. Pada 2014 dan 2018 laut sudah menjebol tanggul-tanggulnya. Kini mangrove hasil restorasi menutupi lebih dari tujuh hektare.
Citra satelit 2009–2018: Google Earth.
Video
Video sejarah Mengare
Dampak sejauh ini
Yang sudah dicapai
Lembaga yang pernah meneliti dan belajar di sini
- Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
- IPB University
Sekolah dari sekitar Gresik, kampus, perusahaan, dan komunitas datang untuk belajar, menanam, dan berkemah. Kegiatan publik antara lain kemah mangrove, literasi laut untuk anak-anak dan guru, serta jelajah Mengare Discovery.
Jadi bagian dari babak berikutnya
Ajak sekolah, kampus, atau keluarga Anda, atau datang untuk meneliti.




















