
Tentang
Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove Mengare
Tambak yang terkikis abrasi kami pulihkan menjadi hutan mangrove dan tempat belajar tentang ekosistem pesisir dan laut.
Apa itu PRPM Mengare?
PRPM Mengare adalah singkatan dari Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove Mengare.
Mengare Discovery adalah nama program edukasi, restorasi, dan penjelajahan pesisir Mengare yang berpusat di PRPM Mengare.
Pusat ini berada di Desa Tanjung Widoro, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, di ujung utara Mengare yang berbatasan dengan Selat Madura. Mengare dulu terpisah dari Jawa oleh muara lama Bengawan Solo; endapan sungai kemudian menyatukannya dengan daratan. Warga sekitar juga menyebut kawasan ini Warakas atau Wisata Mangrove Mengare.
Sejak 2018 sekitar 9,5 hektare tambak terabrasi sudah ditanami. Kami menanam jenis perintis lebih dulu, bertahap dari area terlindung ke area terbuka, di samping mangrove yang tumbuh kembali secara alami. Kawasan ini terbuka untuk pengunjung, sekolah, kampus, dan peneliti.
Rencana tata ruang Kabupaten Gresik menetapkan pesisir Mengare sebagai kawasan konservasi mangrove dan Mengare sebagai kawasan wisata alam. PRPM Mengare merupakan program CSR PT Petrokimia Gresik yang dijalankan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Siapa yang mengelola
Pusat ini dikelola Pokmaswas (Kelompok Masyarakat Pengawas) Tanjung Widoro, yang anggotanya nelayan setempat. Kelompok ini memegang hak kelola dari Kepala Desa dan mengelola kawasan secara mandiri sejak 2020. Pengelolaan dijalankan bersama Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Tanjung Widoro.
Narahubung: Abdul Fadil, Pokmaswas Tanjung Widoro.
Bentang alam
Bentang alam kawasan
Mangrove muda hasil restorasi tumbuh bersebelahan dengan mangrove tua di tepi sungai, hamparan lumpur, rumpun bambu, dan pohon pantai. Ikan dan kepiting berlindung di antara akar. Saat surut, burung pantai mencari makan di lumpur, sedangkan burung darat bertengger di bambu dan pohon pantai.
Mangrove hasil restorasi
Tegakan muda di tambak terabrasi, hasil penanaman sejak 2018 dan pertumbuhan alami. Api-api mendominasi, bakau makin berkembang.
Mangrove tua di tepi sungai
Sisa hutan alami di sepanjang bantaran sungai, dengan pohon yang lebih tinggi dan besar.
Hamparan lumpur pasang surut
Muncul saat air surut; tempat burung pantai dan burung air mencari makan.
Hutan bambu dan tegakan pantai
Rumpun bambu, cemara laut, sentigi, dan randu alas melengkapi habitat di sekeliling mangrove.
Penghidupan
Mangrove dan masyarakat
Nelayan menangkap kepiting bakau, belanak, dan udang rebon (bahan terasi) di sekitar mangrove hasil restorasi, sementara tiram dan kerang dikumpulkan saat surut. Tesis ITS tahun 2024 (Satriyono) menaksir nilai produksi kotor tangkapan ini Rp99,54 juta per tahun, pada area tangkap seluas 17,5 ha. Mengare juga dikenal dengan tambak bandeng dan olahan khas seperti bonggolan, terasi udang, dan kerupuk ikan.
Belajar
Tempat belajar
Sekolah memakai kawasan ini untuk belajar di lapangan dan berkemah, kampus untuk penelitian, serta perusahaan dan komunitas untuk kegiatan rehabilitasi. Keanekaragaman hayati kawasan dipantau setiap tahun. Warga juga dilatih menjadi pemandu ekowisata, dan anak-anak serta guru mengikuti kegiatan literasi laut.
Lihat aktivitas yang bisa diikuti.
Video
Local Heroes Mengare
Perjalanan kami
Program ini berkembang dalam beberapa tahap.










