Langsung ke isi
mengare discovery
Pengunjung di bawah pohon beringin di situs Benteng Lodewijk

Cagar budaya pesisir

Benteng Lodewijk

Daendels membangun benteng ini pada 1808 untuk menjaga mulut Selat Madura. Yang tersisa sekarang hanya reruntuhan di tepi air.

Sejarah

Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memerintahkan pembangunan benteng ini pada 1808 dan menamainya sesuai nama Lodewijk (Louis) Napoleon, Raja Belanda saat itu. Menurut catatan sejarah, hanya benteng inilah yang berhasil dirampungkan Daendels di Nusantara. Benteng ini menjaga pesisir di mulut Selat Madura sampai 1857. Tahun itu Belanda membongkarnya dan memindahkan pusat pertahanan ke Surabaya, sehingga benteng tidak lagi dipakai. Reruntuhannya tetap tertinggal di tempatnya. Pembangunannya diawasi Arnold Adriaan Buyskes, yang memimpin pasukan laut dan darat di Surabaya sejak 6 Desember 1808.

Pesisir yang terus berubah

Peta Belanda tahun 1870-an mencatat benteng di titik ini dengan nama Fort Erfprins, di pulau kecil sekitar 0,8 km dari pantai. Benteng itu disamakan dengan Benteng Lodewijk karena letaknya sama; catatan pergantian namanya belum ditemukan. Pada 1920–1930-an, tambak sudah dibuka sampai ke benteng. Abrasi lalu menggerus tambak itu, dan reruntuhan benteng kembali berada di tepi air.

Yang tersisa

Di bawah pohon beringin masih ada fondasi, dua sumur, dan sisa bangunan bata merah. Sebagian sudah tergerus abrasi. Situs ini ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Kabupaten Gresik pada 21 Oktober 2020.

Rute perahu

Perahu bersandar di titik 4, tempat sandar menuju Benteng Lodewijk.

Rute perahu Mengare Discovery (±7,4 km)

  1. 1Dermaga PRPM Mengare (berangkat dan kembali)
  2. 2Pelabuhan Ikan Tanjung Widoro
  3. 3Dermaga Mengare Discovery
  4. 4Tempat sandar perahu menuju Benteng Lodewijk
  5. Pantai Mengare Discovery
  6. Kawasan Benteng Lodewijk

Rute dari pemetaan lapangan; lintasan sebenarnya menyesuaikan pasang surut. Peta dasar: Esri World Imagery.

Benteng dan lokasi restorasi baru

Lokasi restorasi mangrove 2026 bersebelahan dengan kawasan benteng. Kalau tambak terabrasi di sini pulih, garis pantai di sekitar situs cagar budaya ikut terlindungi. Tentang restorasinya →

  1. Area target restorasi 2026

    Luas area target: 5,4 ha

    Area yang direkayasa menjadi habitat yang sesuai bagi regenerasi alami mangrove; tidak seluruhnya ditanam.

  2. Kawasan Benteng Lodewijk

    Luas kawasan: 4,8 ha

    Kawasan benteng peninggalan Daendels (1808) di dekat lokasi restorasi baru. Ditampilkan sebagai acuan lokasi; bukan area kegiatan restorasi.

Posisi dari pemetaan lapangan; luas dihitung dari batas hasil pemetaan. Peta dasar: Esri World Imagery.

Pengunjung di bawah pohon besar di situs Benteng Lodewijk
Siswi SMP Muhammadiyah 12 GKB menanam pohon butun (Barringtonia asiatica) di Benteng Lodewijk
Penanaman pohon butun (Barringtonia asiatica) di benteng.

Rujukan

Didukung oleh

Danantara IndonesiaPupuk IndonesiaPetrokimia GresikTJSL Petrokimia GresikPokmaswas Tanjung WidoroPokdarwis Tanjung WidoroDinas Lingkungan Hidup Kabupaten GresikPemerintah Desa Tanjung WidoroAgrie ConservationEcosains IndonesiaGresik Naturalist